Hujan Mengabaikan Rembulan

Di gelap-gelapnya langit malam; mata ini menerawang jauh keluar. Sepi-sepi saja di jalan, tak ada lalu lalang orang lewat di luar; hanya rintik-rintik hujan membunyikan nyanyiannya. ‘Lalu kemana orang-orang?’ bisikku bertanya. Biarlah alam berbasah air hujan asal mata ini tidak sembab oleh air kesedihan. Aku senang malam ini tenang tiada suara kegaduhan menusuk telinga. Namun … kali ini aku ingat, di mana kini rembulan? Pergikah ia meninggalkan malam? Atau sembunyikah ia di balik pintu rumahku? Hmm ….

Perihal malam yang gelap, perihal hujan yang menggenang, apakah sama yang kau rasa? Lampu jalan tertunduk lesu, nuansa kota nampak malas menampakkan penghuninya. Ada cerita yang terlewati, ada momen yang mengukir kenangan. Tuhan Maha Kuasa, Maha Kasih dan Sayang. Kehidupan selalu berputar, hidup ini hanya sebentar. Aku tak ingin terlalu lama menunggu karena membuat bosan hati menggerutu. Tahukah kamu? Waktu tak bisa diminta kembali, terlalu sayang bila terbuang sia.

Keindahan siang nampaklah terang, keindahan malam nampaklah rembulan. Lalu, apakah kamu melihat rembulan malam ini? Apakah kamu ingin memandangnya? Sayang, kali ini … hujan mengabaikan rembulan.