Dunia dan Perhiasannya

Engkau bertahta di singgahsana

Engkau berharta punyai segalanya

Engkau berwibawa seperti raja

Namun ingat, hidup ini singkat

Tak ada yang terbawa, saat raga tak bernyawa

 

By : Devanlah Gus

Iklan

Tepat di Hari Jum’at

Malam ini ialah malam gemanya takbir menyebut Asma-Nya. Malam Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Setelah melewati sebulan menjalani puasa; dari menahan lapar, haus dan segala pantangannya, kini sudah tibalah hari kemenangan. Hari Raya Idul Fitri yang bertepatan dengan rajanya hari yaitu hari Jum’at, tepat. Seperti yang sudah kita saksikan bersama baik di di luar sana maupun di sekitar kita, seluruh umat muslim di dunia merayakan hari kebesaran umat islam Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Fenomena dan segala momen-momennya mengiringi hari menuju hari yang fitri, kembali kepada kesucian hati dari dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah lampau menuju pengampunan-Nya.

Mari saling maaf-maafan kepada siapa pun yang pernah kita jumpai atau pun mereka yang dirasa pernah hadir dan mengiringi kehidupan kita di dunia ini. Agar hati tentram agar silaturahmi terjaga selalu. Kita muslim kita bersaudara, saudara seiman. Sudah menjadi budaya kita di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, setiap Hari Raya Idul Fitri seluruh umat muslim Indonesia merayakan dan mengisi hari kemenangan ini dengan saling maaf-maafan. Meski meminta dan memberi maaf tak selalu menunggu di hari yang fitri ini, toh setiap saat pun bisa dan lebih baik lagi.

Suatu pemandangan yang mengharu biru saat malam tibanya Hari Raya ini. Di setiap daerah umat muslim menyambutnya dengan berbagai cara dan budayanya. Seperti malam ini(14 Juni 2018}suara gema takbir dan pawai takbir keliling memenuhi di setiap ruas-ruas jalan kota. Suasana yang begitu mengesankan dengan segala rasa yang menyelimuti hati. Warna-warna malam semakin meriah dan megah di kala saat selepas Isya, dari warga sekitar hingga para pengikut pawai takbir kelilingnya keluar rumah dan berbaur di jalan-jalan kota. Penuh sesak dan kemacetan kendaraan yang lewat. Ini hari yang terjadi di setiap setahun sekali, alau nanti ada Hari Raya Idul Adha setelahnya. Tetap kemeriahan malam ini lebih hidup dan mengesankan.

Mungkin tulisan ini saja yang bisa saya bagikan kepada anda-anda semua. Saya pribadi mengucapkan :

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir dan batin”

 

Salam enol-enol, ya ….

Ingin Kudengar Sabdamu

Seandainya engkau masih hidup, aku ingin menemuimu.

Bertemu dan bertanya tentang hidup di zaman ini, tentang akhirat yang masih menyimpan tanya.

Ya Nabi, Ya Rosululloh, aku tak mampu memahami tentang keadaan ini. Aku takut tergelincir dalam dosa yang hina.

Aku ingin berjumpa dan menatap wajahmu.

Dalam doa kumemohon, dalam langkah kuberjuang mentaati segala ketentuan-Nya.

Namun aku berpegang dalam hidup dan perjalanan ini dengan Al Qur’an dan Sunnah.

Seperti yang engkau tinggalkan pada umatmu ini.

Ya Nabi, Ya Rosululloh aku ingin mendengar sabdamu.

Ramadhan berkisah

Sudah hari ketiga, puasa di bulan ramadhan. Yang berkesan dari bulan ini ialah salah satunya jajanan takjil di pinggir-pinggar jalan. Hampir di tiap ruas jalan selalu ditemui penjual menu buka puasa saat sore tiba selepas shalat ashar. Suasana keramaiannya di sepanjang jalan memberi kesan tersendiri saat berada di tengah-tengahnya. Menggoda sekali rasanya ketika melewati di depan mereka. Hanya di bulan ramadhan suasana ini bisa ditemui, sungguh aku suka ini.

Apa yang kamu beli ketika kamu tertarik untuk membelinya? Makanannya kah atau minumannya yang seger bener? kalau saya dua-duanya, haha …. Tahu sendiri rasanya menahan lapar dan haus seharian, uuh banget deh. Soal selera, pasti tiap orang berbeda-beda. Yang saya tuju pertama-tama kalau saya beli itu minuman dulu , karena itu yang  bikin gregetan banget. Kalau yang lain? soal makanannya entar dulu. Bisa setelah beli minumannya udah dapat baru kemudian membeli makanan kesukaan kita.

Secara di daerah tempat saya, tepatnya di depan kampung sudah menjadi agenda rutin tiap bulan puasa tiba di sepanjang jalan ini selalu dipenuhi para penjual menu takjil, dari ujung timur hingga ujung barat jalan. Semuanya menggoda, dari makanannya hingga minumannya. Para penjualnya pun beraneka ragam ada para emak-emak, bapak-bapak, hingga para muda-mudi generasi kekinian. Mendadak jago masak ketika kita memasuki di bulan ramadhan, segala ketrampilan ditunjukkan untuk berjualan menu takjil. Mulai dari sekadar menjual es buah hingga menjual berbagai macam menu makanan lainnya.

Tak hanya itu, yang tak boleh terlupakan dari bulan suci ini ialah memperbaiki diri dan memperbanyak amal/perbuatan yang soleh. Di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini alangkah baiknya kita senantiasa banyak-banyak mengingat Allah. Karena bulan ini ada di setiap tahunnya dan belum tentu di bulan ramadhan berikutnya kita bisa berjumpa lagi. Memang waktu berputar cepat tanpa terasa telah membawa kita di berbagai situasi dan kondisi. Dengan bertambahnya usia semakin berkurang pula kesempatan kita hidup di dunia ini.

Mungkin sedikit coretan ini bisa melegakan saya setelah sekian lama tidak memposting di blog karena kesibukan dunia nyata yang menyita tenaga serta waktu. Menulis juga memerlukan waktu, inspirasi dan mood. Karena dengan waktu yang kita miliki kita bisa fokus untuk menulis, karena dengan inspirasi kita bisa mengembangkannya dalam cerita dan dengan mood kita bisa menikmati di setiap jalan cerita tulisan kita.

Salam hangat, selalu semangat!

Gerhana Matahari

Sejauh hari

Sebelum tibanya

Manusia mengusap resah

Melebur gelisah

 

Menjamur kabar angin

Terdengar hingga memori

 

Tanda-Tanda_Mu

Ialah Kebesaran_Mu

Rembulan menutup Sang Surya

Pandangan gelap gulita

 

Oh Tuhan, doaku pada_Mu

Semoga Insan kembali insyaf

Mengingat, mendekat, mengenal_Mu

 

By : Devanlah Gus